Kasus Super Flu Bandung, 1 Pasien Meninggal : Menkes Imbau Warga Jangan Panik

Ilustrasi
Ilustrasi

TanjukRakyat.com,Bandung – Kasus super flu Bandung menjadi perhatian publik setelah seorang pasien di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) dilaporkan meninggal dunia.

Pasien tersebut terkonfirmasi terinfeksi Influenza A H3N2 subclade K, yang belakangan dikenal masyarakat sebagai super flu.

Berdasarkan data RSHS, pasien super flu mulai dirawat sejak September hingga November 2025.

Total Terdapat 10 Kasus

Total terdapat 10 kasus yang tercatat selama periode tersebut dengan tingkat keparahan yang bervariasi. Konfirmasi laboratorium melalui metode Whole Genome Sequencing (WGS) baru diperoleh pada Januari 2026.

Dari seluruh kasus super flu Bandung yang tercatat, dua pasien mengalami kondisi berat dan membutuhkan perawatan intensif, dengan satu pasien dinyatakan meninggal dunia.

Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa kematian pasien super flu Bandung tidak disebabkan secara langsung oleh infeksi virus influenza, melainkan karena penyakit penyerta (komorbid) yang telah lama diderita pasien.

Menurut Budi, keberadaan virus influenza dalam tubuh seseorang tidak otomatis menjadi penyebab utama kematian, terutama bila pasien memiliki penyakit kronis yang memperburuk kondisi kesehatan.

Karena Punya Penyakit Lain

“Yang Bandung meninggal itu karena punya penyakit lain. Meninggalnya bukan karena flu,” ujar Budi dalam keterangan dikutip Selasa 13 Januari 2026.

Ia memberikan ilustrasi bahwa seseorang bisa saja terinfeksi flu, namun meninggal akibat faktor lain yang lebih dominan, seperti kecelakaan atau penyakit berat yang sudah ada sebelumnya.

Menanggapi kekhawatiran publik, Menkes menekankan bahwa Influenza A H3N2 subclade K bukanlah virus baru.

Virus ini telah lama beredar di masyarakat dan berbeda dengan Covid-19 yang sebelumnya memicu pandemi global karena merupakan virus baru bagi sistem imun manusia.

H3N2 Sudah Lama Beredar

“Kalau H3N2 ini sudah lama beredar. Sistem imun kita umumnya sudah mengenalnya,” jelas Budi.

Ia menambahkan bahwa pada individu dengan kondisi tubuh sehat, sistem imun umumnya mampu melawan infeksi virus ini tanpa menimbulkan dampak fatal.

Meski memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi, fatality rate super flu Bandung dan kasus serupa di Indonesia tergolong sangat rendah. Varian subclade K memang menyebar cepat, namun dari sisi tingkat kematian dinilai lemah.

“Varian K ini memang menyebar sangat cepat, tapi dari sisi tingkat kematian sebenarnya lemah,”kata Budi.

62 Kasus Super Flu

Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan mencatat 62 kasus super flu di Indonesia. Kasus super flu Bandung yang ramai diperbincangkan ditegaskan bukan klaster baru, melainkan bagian dari data lama yang telah lama dipantau oleh otoritas kesehatan.

Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada namun tidak panik, serta menjaga daya tahan tubuh, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia dan penderita penyakit kronis.

Kasus super flu Bandung diharapkan menjadi pengingat pentingnya deteksi dini dan perlindungan kesehatan, tanpa menimbulkan ketakutan berlebihan di masyarakat.(*)

 

Exit mobile version