Arogan ! Oknum Dosen USU Diduga Usir Mahasiswa Tak Boleh Ikut Mata Kuliah

Ilustrasi
Ilustrasi

TajukRakyat.com,Medan- AP Harahap, salah satu orang tua dari mahasiswa Fakultas Teknik USU kecewa dengan tingkah oknum dosen di Fakultas Teknik Arsitektur USU berinisial MD Lubis.

Oknum dosen yang seharusnya menjadi tenaga pendidik yang menyiapkan para mahasiswa menjadi calon pemimpin di negeri ini, malah mengintimidasi mahasiswa dengan tidak mengizinkan beberapa mahasiswa mengikuti mata perkuliahan yang diasuh MD Lubis.

Orangtua Kecewa Oknum Dosen MD Lubis.

Akibat tindakan yang terkesan Aroga maka AP Harapan sangat kecewa terhadap oknum Dosen tersebut (MD Lubis) karena setiap mata kuliah yang diajarkannya anak dari AP Harahap diusir dan tidak bisa mengikuti mata kuliah.

“Saya sempat bertanya dan berkoordinasi terkait masalah ini dengan cara menelpon langsung oknum dosen tersebut. Tapi telpon saya tidak pernah diangkat. Akibat masalah ini anak saya stres dan tertekan batin tak mau kuliah. Oknum dosen harus bertanggung jawab,” beber AP Harahap kepada awak media, Senin (19/1/26).

Selain menelpon, lanjutnya, saya juga berupaya menghubungi dosen tersebut lewat WhatsApp, namun tak juga dibalas.

Malahan kata AP Harahap, WhatsAppnya di screenshot, dan disebarkan ke grup mahasiswa.

Oknum Dosen Tuding Diteror

“Oknum dosen tersebut malah menggiring opini bahwa ia mendapat teror,” jelasnya.

Masih lanjut AP Harahap, yang paling membuat anak saya semakin tersudut dan merasa terintimidasi, dan dikeluarkan dari grup WhatsApp mahasiswa.

Bukan itu saja, teman satu angkatan anak saya juga mendapat intimidasi dari oknum dosen tersebut dengan mengatakan bahwa satu angkatan mereka bakal di beri saksi semua.

Bahkan, MD Lubis mengancam akan segera mengeluarkan surat pemanggilan orang tua mahasiswa yang bersangkutan.

Namun surat tersebut belum juga dikeluarkan karena menurut informasi beredar surat tersebut tak di setujui Kepala Program Studi (Kaprodi).

Sebab tidak disetujuinya surat tersebut dinilai penuh unsur kepentingan pribadi.

Menanggapi persoalan ini, saya juga sempat berbincang dengan tim Humas USU yang juga berasal dari rekan media.

Ia mengatakan bakal menyelesaikan masalah ini dengan baik-baik.

“Setelah 2 Minggu, belum juga ada progres ” ungkap AP Harahap dengan nada kesal.

Orangtua Mahasiswa Tidak Terima

“Saya tidak terima apa yang dilakukan oknum dosen tersebut kepada anak saya. Setiap mata kuliahnya dia usir seenaknya. Bukan dosen yang punya kampus USU. Anak saya kuliah bayar bukan gratis, setiap semester saya bayar uang bukan kecil uangnya. Seperak dua perak saya kumpulkan uang demi anak bisa kuliah. Kalau tak bisa ikuti mata kuliah, bagaimana mana dosen itu memberikan nilai?,” tuturnya.

Dalam minggu ini, kata AP Harahap, dia akan menghadap Rektor atau Dekan.

“Saya berharap kepada Rektor dan Dekan untuk menyelesaikan masalah ini. Sepertinya dosen melecehkan saya.
Kecuali anak saya terlibat tawuran dan narkoba. Maka saya terima anak saya dikeluarkan dari kampus. Ini hanya karena masalah sepele soal kegiatan Family Gathering (Famgath),” terangnya.

Jujur profesi saya wartawan selama dua minggu ini saya biarkan. Karena masalah ada pasti ada jalan solusinya.

Tak mau saya naikkan ke media permasalahan ini, saya masih jaga nama baik Fakultas Teknik.

“Mohon pak Rektor dan Dekan. Karena tak ditanggapi maka dengan terpaksa saya naikkan ke media agar publik tahu apa yang telah dilakukan oknum dosen tersebut,” katanya kesal.

Bermula dari Family Gathering

Sebelumnya, buntut permasalahan oknum dosen MD Lubis dengan beberapa mahasiswa diduga bermula dari penyelenggaraan Family Gathering yang berjudul (KUKEKA).

Kegiatan ini merupakan kegiatan bersama antara mahasiswa angkatan 2022 dengan angkatan 2025.

Pembentukan kepanitiaan Famgath dilaksanakan segera setelah Forum IMA mendapat restu dari MD Lubis.

Bahkan ia menunjukkan keantusiasannya kepada panitia dengan bertanya mengenai kemajuan persiapan acara dan memberikan saran, pada 17/10/25.

Namun, memasuki H–4 (22/10/25) sebelum pelaksanaan kegiatan, MD Lubis menerima sebuah pesan anonim yang berisi pertanyaan terkait banyaknya kegiatan yang diadakan untuk mahasiswa baru dan beberapa acara yang dinilai sebagai wajib dan menguras kantong.

Pesan anonim tersebut dinilai tidak disampaikan secara sopan dan tidak sesuai dengan etika komunikasi akademik.

Seiring berjalannya waktu dan belum ditemukannya oknum pengirim pesan anonim yang dimaksud, MD Lubis kemudian menyampaikan pengumuman bahwa seluruh kegiatan yang melibatkan angkatan 2025 tidak diperkenankan untuk dilaksanakan sampai dengan ditemukannya pengirim pesan anonim tersebut.

“Ada lima mahasiswa yang mendapat ancaman dan intimidasi dari oknum dosen tersebut, salah satu diantaranya anak saya,”ungkap AP Harahap.

Bahkan sang dosen mengancam, agar mahasiswa angkatan 2025 direkomendasikan agar tidak dikader Ikatan Mahasiswa Arsitektur (IMA) dan tidak dilibatkan dalam kepengurusan berikutnya.

“Sebentar lagi masuk mahasiswa baru angkatan 2026. Berikutnya lompat 1 angkatan,” terang AP Harahap menjelaskan.

Hingga berita ini ditanyakan pihak awak medi masih mencari MD Lubis untuk dikonfirmasi MD Lubis. (cici)

Exit mobile version