Demo Iran Memanas : Ribuan Demonstran Tewas
TajukRakyat.com, - Demo Iran kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah lebih dari 2.400 demonstran anti-pemerintah dilaporkan tewas akibat penindakan keras aparat keamanan.
HAM Berbasis Amerika Serikat
Data tersebut disampaikan oleh sebuah kelompok hak asasi manusia (HAM) yang berbasis di Amerika Serikat, dikutip dari media BBC, Rabu 14 Januari 2026.
Aksi demo Iran yang telah berlangsung selama dua pekan terakhir ini memicu reaksi keras dari Amerika Serikat.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi militer dan langkah strategis lainnya, menyusul eskalasi kekerasan terhadap demonstran.
Sebelumnya, Trump juga mengumumkan tarif sebesar 25 persen bagi negara mana pun yang masih melakukan perdagangan dengan Iran, sebagai bentuk tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Iran Siap Perang
Menanggapi ancaman tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa negaranya siap berperang jika Amerika Serikat memutuskan untuk mengambil langkah militer.
“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang telah dicoba sebelumnya, kami siap untuk itu,” ujar Araghchi dikutip dari Aljazeera.
Meski demikian, Araghchi menegaskan bahwa Iran masih berharap Amerika Serikat memilih jalur dialog dan diplomasi sebagai solusi atas krisis yang dipicu oleh demo Iran.
Ia juga memperingatkan adanya pihak-pihak yang disebutnya berupaya menyeret Washington ke dalam konflik bersenjata demi kepentingan Israel.
Iran Klaim Ada Unsur Teroris
Dalam wawancara tersebut, Araghchi menyinggung meningkatnya jumlah korban jiwa selama demo Iran, dengan kembali mengulang klaim pemerintah bahwa terdapat “unsur-unsur teroris” yang menyusup ke tengah massa.
Menurut Iran, kelompok tersebut menargetkan pasukan keamanan sekaligus demonstran, sehingga memperparah situasi di lapangan.
Pemerintah Iran juga secara terbuka menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas dugaan provokasi yang memicu kerusuhan nasional.
Situasi demo Iran kini tidak hanya menjadi isu domestik, tetapi juga berkembang menjadi krisis geopolitik yang berpotensi memicu konflik regional.
Komunitas internasional terus menyerukan penyelidikan independen atas korban jiwa serta mendesak semua pihak menahan diri.
Dengan meningkatnya tekanan global dan ancaman militer, perkembangan demo Iran diperkirakan masih akan menjadi perhatian utama dunia dalam waktu dekat.(*)
Komentar (0)