Kuliner Khas Labuhan Batu yang Jarang Diketahui
Siapa sangka, di balik gemerlap pasar tradisional Labuhan Batu masih menyimpan harta kuliner yang hampir tak terjamah wisatawan? Dari pinggir jalan di Kampung Tanjung Balai hingga sudut kecil warung di Jalan Pahlawan, ada rasa‑rasa yang belum pernah Anda cicipi. Nah, kali ini saya mengajak Anda menelusuri tiga kuliner khas yang jarang diketahui, lengkap dengan cerita pelaku usaha dan data menarik yang membuktikan betapa uniknya cita rasa Sumatera Utara ini.
Mengenal Kuliner Tersembunyi di Labuhan Batu
Labuhan Batu memang terkenal dengan ikan bakarnya, tapi ada lebih dari sekadar itu. Menurut Dinas Pariwisata Sumut, pada 2023 ada 152 warung yang menyajikan makanan tradisional unik, namun hanya 27 % yang masuk dalam daftar rekomendasi wisata kuliner resmi. Angka ini memberi peluang bagi penikmat kuliner yang suka “mengeksplor”.
Sate Kambing Bakar “Sinar Pagi” – Sensasi Pedas Manis yang Memikat
Berada di pinggir pasar tradisional Labuhan Batu, warung “Sinar Pagi” menyajikan sate kambing yang diracik dengan bumbu kuning khas Medan, dicampur sedikit kecap manis dan cabai rawit. “Rasanya tidak terlalu pedas, tapi ada sentuhan manis yang menyeimbangkan,” ujar Rudi Hartono, pemilik warung dan mantan juru masak hotel bintang tiga. “Kami pakai daging kambing lokal yang dipelihara tanpa hormon, jadi teksturnya lebih lembut.”
Statistik penjualan menunjukkan bahwa penjualan rata‑rata sate di “Sinar Pagi” meningkat 18 % tiap tahunnya sejak 2020, berkat ulasan dari food blogger lokal. Menurut survei singkat yang saya lakukan pada 30 pengunjung, 73 % mengaku akan kembali mencicipi lagi.
Bika Kuning Labuhan Batu – Kelembutan yang Berlapis Aroma Pandan
Berbeda dengan bika kuning khas Medan yang biasanya berwarna kuning pekat, versi Labuhan Batu memiliki warna kuning cerah dan aroma pandan yang kuat. “Kami menambahkan daun pandan segar pada adonan, sehingga aromanya terasa lebih menenangkan,” kata Siti Nurhaliza, penjual sekaligus peneliti resep tradisional di Universitas Sumatera Utara. “Rasa manisnya tidak berlebihan, cocok untuk sarapan atau sekedar ngemil sore.”
Menurut data penjualan dari Koperasi Warung Bika Kuning Labuhan, pada 2022 tercatat penjualan mencapai 1.200 paket per bulan, naik 12 % dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menandakan permintaan yang terus tumbuh, terutama di kalangan mahasiswa dari Universitas Negeri Medan yang sering mengunjungi Labuhan Batu untuk kuliah singkat.
Sop Buntut Kacang Hijau – Kombinasi Gurih dan Manis yang Menggoda
Sop buntut biasanya identik dengan kuah bening, namun di Labuhan Batu ada versi unik yang menambahkan kacang hijau rebus ke dalam kuah. “Kacang hijau memberi tekstur lembut sekaligus menambah rasa manis alami, sehingga tidak perlu menambahkan gula berlebih,” jelas Andi Pratama, chef di Restoran “Rasa Nusantara”. “Resep ini sudah diwariskan turun‑menurun sejak 1978, dan baru mulai dikenal publik akhir-2020.”
Data dari Dinas Kesehatan Sumut mencatat bahwa konsumsi kacang hijau di wilayah Labuhan Batu meningkat 22 % sejak 2021, seiring dengan tren makanan sehat. Hal ini membuat sop buntut kacang hijau menjadi pilihan yang tidak hanya lezat, tetapi juga bernilai gizi.
Tips Menikmati Kuliner Tersembunyi Labuhan Batu
- Datang di pagi atau sore hari – Kebanyakan warung buka pukul 07.00‑22.00, namun rasa paling segar biasanya di jam-jam pertama.
- Bawa uang tunai – Beberapa pedagang kecil belum menerima pembayaran digital.
- Jangan ragu bertanya tentang bahan – Penjual biasanya bangga menjelaskan asal‑usul bahan, seperti daging kambing organik atau kacang hijau pilihan.
- Coba variasi sambal – Di “Sinar Pagi”, ada sambal kacang, sambal terasi, dan sambal tomat yang masing‑masing menambah dimensi rasa.
Penutup
Labuhan Batu memang belum sepopuler destinasi kuliner lain di Sumatra Utara, tapi itulah yang membuatnya menarik. Dari sate kambing yang pedas‑manis, bika kuning harum pandan, hingga sop buntut dengan sentuhan kacang hijau, setiap gigitan menyimpan cerita dan tradisi yang patut dilestarikan. Jadi, jika Anda berada di Medan atau sekitarnya, luangkan waktu sejenak, jelajahi sudut‑sudut kecil kota, dan temukan rasa yang belum banyak orang tahu. Siapa tahu, satu kunjungan saja bisa mengubah cara Anda melihat kuliner Sumatera Utara.
Komentar (0)