SBY Soroti Negosiasi AS–Iran di Jenewa : Perang atau Damai Ditentukan
TajukRakyat.com,Jakarta - Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti perundingan penting antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Jenewa pada akhir Februari 2026.
Ia menilai hari-hari ini menjadi momen penentu yang bisa mengarah pada perdamaian atau justru memicu perang besar di kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataannya, SBY mengatakan negosiasi terkait masa depan program nuklir Iran merupakan proses yang sangat rumit.
Pertemuan Kedua Negara Melalui Mediator
Pertemuan tidak langsung antara kedua negara melalui mediator dinilai penuh tantangan, mengingat perbedaan kepentingan yang tajam serta situasi kawasan yang memanas.
SBY juga menyinggung karakter kedua pemimpin, yakni Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Menurutnya, keduanya memiliki kepentingan dan pertimbangan besar, termasuk soal reputasi, legacy, hingga keberlangsungan kekuasaan.
Negosiasi Melelahkan dan Membutuhkan Kesabaran
“Negosiasi itu melelahkan dan membutuhkan kesabaran, kecerdasan, serta kemauan untuk berkompromi. Harus ada ‘take and give’,” ujar SBY, yang mengaku memiliki pengalaman panjang dalam resolusi konflik nasional dan internasional.
SBY menilai perang tidak serta-merta menjadi keniscayaan jika perundingan gagal.
Ia menekankan ada dua pertimbangan utama sebelum sebuah negara memutuskan perang: apakah perang memang sebuah keharusan (war of necessity) atau hanya pilihan (war of choice), serta apakah secara rasional perang itu bisa dimenangkan.
Ia mengingatkan agar para pemimpin tidak mengabaikan kalkulasi matang dan nasihat militer.
SBY juga menyinggung pengalaman pahit Amerika Serikat di Vietnam, Irak, dan Afghanistan sebagai pelajaran bahwa memulai perang lebih mudah dibanding mengakhirinya.
SBY Sampaikan Pesan Moral
Sebagai penutup, SBY menyampaikan pesan moral kepada para pemimpin dunia yang memiliki kewenangan memutuskan perang.
Ia menegaskan bahwa prajurit memang siap berkorban demi negara, tetapi mereka harus memahami tujuan yang diperjuangkan.
“Prajurit tidak bertempur dan siap mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati,” tegasnya.(*)
Komentar (0)