TajukRakyat.com,Jakarta – Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi memberikan tanggapan terkait dengan Projo putus hubungan dengan Presiden RI ke-7 Joko Widodo atau Jokowi.
Bukan tanpa sebab, Ketum Projo menegaskan bahwa kata Projo bukan singkatan dari Pro Jokowi seperti yang selama ini banyak diyakini masyarakat dan media, melainkan berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti negeri dan bahasa Jawa Kawi yang berarti rakyat.
Projo Tidak Aka Jadi Parpol
“Jadi kaum Projo adalah kaum yang mencintai negara dan rakyatnya,” kata Budi Arie.
Menurut Budi Arie, istilah “Pro Jokowi” hanyalah istilah populer yang dipakai media karena lebih mudah dilafalkan.
Ia juga menyampaikan bahwa Projo sebagai organisasi relawan tidak akan menjadi partai politik dan berencana mengubah logo Projo agar tidak memberi kesan mengagungkan individu tertentu, terutama Presiden Joko Widodo yang wajahnya terdapat pada logo sebelumnya.
Pernyataan ini menjadi bagian dari upaya transformasi organisasi Projo untuk tetap relevan sebagai kaum yang mencintai negara dan rakyat, meskipun Jokowi sudah tidak lagi menjabat presiden.
Projo Putus Hubungan dengan Jokowi ?
Terkait hal tersebut, Budi Ari Setiadi menampik tudingan telah putus hubungan dengan Jokowi.
“Projo ini lahir dari semangat lahirnya pemimpin rakyat yang bernama bapak Joko Widodo,” katanya.
“Jadi sejatinya Projo ini lahir karena ada seseorang pemimpin rakyat yang bernama Joko Widodo,” sambungnya.
Budi Arie Setiadi menjelaskan sejarah Projo merupakan sejarah kepemimpinan Jokowi.
“Sejarah Projo adalah sejarah Pak Jokowi selama 10 tahun berlangsung dari 2014 sampai 2024,” katanya.
Mantan Menteri Koperasi ini lalu menyampaikan kalau kabar Projo berpisah dari Jokowi merupakan framing adu domba.
“Karena saya mendapat berita dari berbagai media Projo berpisah dari Pak Jokowi, ini luar biasa sekali framing adu dombanya,” tukasnya.(*)