Kuliner Peranakan Tionghoa Medan yang Legendaris
Siapa yang tak pernah tergoda aroma harum bumbu kecap manis, bawang putih, dan rempah khas di sudut Jalan Kesawan, Medan? Pada suatu sore yang berangin di kawasan Kampung Cina, saya menelusuri jejak kuliner Peranakan Tionghoa yang sudah melegenda sejak zaman kolonial Belanda. Dari bakmi “Hokkien” yang kenyal hingga kue “kue lapis” berlapis warna-warni, semuanya menyimpan cerita panjang tentang adaptasi, inovasi, dan rasa yang tak lekang oleh waktu.
Sejarah singkat yang menempel di lidah
Peranakan Tionghoa di Medan mulai bermunculan pada akhir abad ke-19, ketika para pedagang Tionghoa‑Hokkien menetap di sekitar Jalan Ahmad Yani dan Jalan Sisingamangaraja. Mereka membawa resep-resep tradisional dari Fujian, namun harus menyesuaikan dengan bahan lokal seperti ikan mas, kelapa, dan cabai merah. Hasilnya? Masakan yang memadukan teknik “wok‑searing” Tionghoa dengan rasa pedas manis khas Sumatera Utara.
Menurut data Dinas Pariwisata Sumut, kunjungan wisata kuliner ke Medan meningkat 12,5 % pada tahun 2023, dengan “kuliner Peranakan” menjadi kategori teratas di antara wisatawan domestik. Angka ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik warisan kuliner tersebut.
Tempat-tempat legendaris yang wajib dicoba
1. Bakmi Hokkien “Gong Si” – Jl. Kesawan No. 28
Bakmi ini terkenal dengan kuah kaldu bening yang disaring hingga jernih, dipadukan dengan irisan daging babi panggang yang renyah. “Kunci kelezatannya terletak pada penggunaan kaldu tulang sapi yang direbus selama 8 jam,” kata Budi Santoso, pemilik warung sejak 1992. “Kaldu yang lama dimasak ini memberi rasa umami yang dalam, jadi tak heran banyak yang kembali lagi.”
2. Kue Lapis “Tionghoa Medan” – Jl. Sisingamangaraja No. 12
Kue lapis berlapis warna hijau, kuning, dan merah ini dibuat dari tepung beras, santan, dan gula merah. “Setiap lapisan kami buat satu per satu, menunggu tiap lapisan mengeras sebelum menambahkan yang berikutnya,” ujar Lin Mei, pembuat kue tradisional sejak 2005. “Prosesnya memakan waktu, tapi hasilnya tetap otentik.”
3. Sate Padang “Cina” – Pasar Petisah
Berbeda dengan sate Padang pada umumnya, versi Peranakan menggunakan bumbu kacang yang dipadukan dengan kecap manis dan sedikit jahe. “Rasa manis‑pedas ini memang menjadi ciri khas Peranakan,” jelas Ahmad Riza, peneliti kuliner Universitas Sumatera Utara. “Kombinasi ini menciptakan sensasi rasa yang tidak ditemukan di sate lain.”
Faktor yang membuat kuliner ini tetap bertahan
- Adaptasi bahan lokal: Penggunaan ikan mas, kelapa, dan cabai merah menyesuaikan selera masyarakat Sumut.
- Warisan keluarga: Banyak resep yang diturunkan secara turun‑menurun, menjaga keaslian rasa.
- Dukungan pemerintah: Program “Kuliner Nusantara” 2022‑2024 memberikan subsidi bagi pedagang kecil untuk memperluas pasar.
Kutipan ahli
“Kuliner Peranakan bukan sekadar makanan, melainkan jendela budaya yang menghubungkan dua dunia,” kata Dr. Siti Nurhaliza, pakar antropologi budaya di Fakultas Ilmu Sosial UMN. “Di Medan, kita melihat bagaimana identitas Tionghoa berbaur dengan tradisi Melayu, menghasilkan rasa yang unik dan berkarakter.”
Tips menikmati kuliner Peranakan di Medan
- Datang pagi hari: Banyak warung membuka pukul 07.00, jadi hindari antrean panjang.
- Gunakan sendok dan garpu: Meskipun tradisionalnya makan dengan sumpit, banyak tempat menyajikan peralatan Barat untuk kenyamanan turis.
- Coba kombinasi: Padukan bakmi dengan sate Padang “Cina” untuk rasa kontras manis‑pedas yang memukau.
- Catat alamat: Simpan nomor telepon warung favorit, karena beberapa tempat tidak menerima pemesanan online.
Penutup
Medan memang kota yang tak pernah tidur, dan kuliner Peranakan Tionghoa menjadi bagian penting dari denyut nadi kota ini. Dari jalan‑jalan bersejarah di Kampung Cina hingga pasar tradisional, setiap suapan mengisahkan perjalanan panjang budaya yang terus beradaptasi. Jadi, kalau Anda berada di Sumut, jangan lewatkan kesempatan mencicipi warisan rasa yang sudah bertahan lebih dari satu abad. Siapkan perut, dan biarkan lidah Anda menelusuri jejak sejarah yang lezat.
Komentar (0)