Kuliner Peranakan Tionghoa Medan yang Legendaris
Berjalan di Jalan Kesawan, Medan, aroma wangi bakpao yang baru keluar dari kukusan masih menggoda hidung. “Kamu pernah coba kue lumpur di sini?” tanya seorang pedagang kaki lima sambil menepuk panci besar berisi adonan berwarna coklat pekat. Pertanyaan sederhana itu mengantar saya menelusuri jejak kuliner Peranakan Tionghoa yang sudah berusia hampir satu abad di ibu kota Sumatera Utara.
Sejarah singkat, rasa yang tetap hidup
Peranakan Tionghoa di Medan bermula dari gelombang migran pada akhir abad ke‑19. Mereka membawa resep-resep keluarga dari Fujian, Guangdong, dan Hainan, lalu menyesuaikannya dengan bahan lokal seperti ikan mas, kelapa, dan rempah khas Sumatera. Hasilnya? Hidangan yang menggabungkan teknik memasak Tionghoa dengan cita rasa pedas-manis Sumatera.
Menurut Liang Tan, ketua Asosiasi Kuliner Peranakan Medan, “Pada tahun 1920‑an, ada sekitar 15 warung yang menyajikan masakan Peranakan. Sekarang, jumlahnya sudah melambung menjadi 68 titik kuliner, tersebar dari Jalan Jawa sampai ke kawasan Pusat Kota.” Angka ini didukung data Dinas Pariwisata Sumatera Utara yang mencatat kenaikan kunjungan wisata kuliner sebesar 27 % pada tahun 2023 dibandingkan tahun sebelumnya.
Menu legendaris yang wajib dicoba
- Bakpao Isi Daging – kulit lembut, isian daging cincang berbalut kecap manis, dan sedikit sentuhan cabai rawit.
- Ayam Bakar Tionghoa – dibumbui dengan kecap asin, madu, dan bumbu rempah Medan, dipanggang hingga kulitnya berkilau.
- Kue Lumpur (Kue Kacang) – adonan tepung beras, kacang tanah, dan gula merah, dibentuk bulat dan digoreng setengah matang.
- Bakmi Ayam Hainan – mie tipis, kuah kaldu ayam bening, dan potongan daging ayam rebus yang empuk.
Suara dari lapangan
“Rasa bakpao di sini beda. Ada sentuhan kelapa yang bikin aroma jadi lebih harum,” kata Siti Nurhaliza, peneliti kuliner Universitas Sumatera Utara, dalam sebuah wawancara di Kedai Gula Tua, Jalan Kapas. “Kalau dibandingkan dengan bakpao di Jakarta, di Medan lebih ‘berani’ dengan rasa pedasnya.”
Sayangnya, tidak semua warung bertahan lama. “Beberapa generasi muda lebih tertarik membuka kafe modern, sehingga warung tradisional terancam tutup,” ujar Liang Tan. Data BPS 2022 menunjukkan bahwa 12 % warung kuliner keluarga yang berdiri sebelum tahun 1980 sudah tidak beroperasi.
Tips menikmati kuliner Peranakan di Medan
- Waktu terbaik: Datanglah antara pukul 10.00‑12.00 atau 17.00‑19.00. Pada jam-jam ini, warung biasanya masih ramai, sehingga rasa makanan masih segar.
- Jangan lewatkan pasar Petisah di sore hari. Di sini, Anda dapat menemukan kue lumpur yang dijual oleh pedagang turun-temurun sejak 1930‑an.
- Gunakan aplikasi “FoodMap Medan” untuk menemukan lokasi warung yang belum terlalu dikenal turis, seperti di Jalan Sisingamangaraja.
- Berbagi cerita dengan pemilik warung. Banyak yang bersedia mengungkap resep rahasia jika Anda menanyakan dengan sopan.
Kenapa kuliner Peranakan tetap relevan?
Yang menarik, meski tren makanan cepat saji melanda, kuliner Peranakan tetap memikat hati penduduk lokal dan wisatawan. Survei online yang dilakukan oleh portal TajukRakyat.com pada Agustus 2023 mencatat bahwa 68 % responden menganggap makanan Peranakan sebagai “identitas rasa Medan”. Angka ini menegaskan betapa kuatnya ikatan emosional antara warga dengan warisan kuliner mereka.
Selain nilai nostalgia, ada pula nilai ekonomi. Menurut data Dinas Perindustrian, UMKM kuliner Peranakan menyumbang Rp 1,8 triliun pada PDB daerah pada tahun 2022, naik 15 % dibandingkan tahun sebelumnya. Ini bukan sekadar angka, melainkan bukti bahwa rasa tradisional dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal.
Penutup
Jadi, kalau Anda berada di Medan, jangan lewatkan kesempatan mencicipi warisan rasa yang telah melewati tiga generasi. Dari bakpao yang menguap di sudut Jalan Jawa, hingga kue lumpur yang renyah di Pasar Petisah, kuliner Peranakan Tionghoa tetap menjadi cerita yang hidup di setiap suapan. Nah, selamat menjelajah rasa, dan semoga lidah Anda menemukan kenikmatan yang tak lekang oleh waktu.
Komentar (0)