Karhutla Kepung Kalimantan, 78,5 Persen Titik Api Terdeteksi di Habitat Orangutan
Foto: Karhutla kepung Kalimantan. [Dok Istimewa]
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Hingga awal September 2026, sejumlah wilayah di Kalimantan dilaporkan dilalap api dan diselimuti asap.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam keberlangsungan satwa liar, terutama Orangutan Kalimantan.
Situasi karhutla disebut semakin mengkhawatirkan di tengah krisis iklim dan fenomena El Nino yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga Januari tahun depan.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyampaikan keprihatinannya terhadap masyarakat yang terdampak asap sekaligus terhadap satwa liar yang kehilangan habitat akibat kebakaran.
"Doa, pikiran, dan solidaritas kami untuk seluruh masyarakat Indonesia yang menjadi korban dan menderita karena sesak napas akibat krisis kebakaran hutan dan lahan. Krisis ini adalah pukulan terberat bagi kita, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga satwa liar di dalamnya," ujar Annisa.
Geopix Catat Lonjakan Ekstrem Titik Api
Geopix mengeluarkan hasil pemantauan seri pertama terkait karhutla dan dampaknya terhadap spesies payung, yakni Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
Analisis tersebut menggunakan data resmi pemerintah, termasuk data titik api atau hotspot dari Kementerian Kehutanan melalui sistem pemantauan Sipongi.
Pemantauan dilakukan pada periode 1 Juni hingga 28 Agustus 2026. Data titik api kemudian ditumpangtindihkan dengan wilayah habitat Orangutan Kalimantan beserta tiga subspesiesnya, yaitu Pongo pygmaeus pygmaeus, Pongo pygmaeus wurmbii, dan Pongo pygmaeus morio.
Hasilnya menunjukkan peningkatan jumlah titik api secara ekstrem di habitat Orangutan Kalimantan selama Agustus 2026.
Pada bulan tersebut, tercatat sebanyak 17.375 titik api. Secara visual, sebaran hotspot pada Agustus jauh lebih masif dan padat dibandingkan Juni dan Juli 2026.
Sebagian besar titik api bahkan terdeteksi berada langsung di dalam kawasan habitat orangutan.
Dari total 22.744 titik api yang terdeteksi di seluruh Kalimantan, sebanyak 17.865 titik atau sekitar 78,5 persen berada di wilayah habitat orangutan.
Temuan tersebut memperlihatkan besarnya ancaman karhutla terhadap salah satu satwa ikonik Indonesia yang kini menghadapi tekanan serius akibat hilangnya habitat.
Puluhan Juta Hektare Wilayah Terdampak
Berdasarkan hasil analisis terhadap areal terdampak selama periode pemantauan, Geopix mencatat sekitar 25.812.699 hektare wilayah terbakar atau terdampak.
Dari luasan tersebut, sekitar 60,2 persen berada di dalam wilayah habitat Orangutan Kalimantan yang memiliki total luas sekitar 42.831.834 hektare.
Geopix menilai tingginya keterpaparan kebakaran terhadap habitat orangutan dapat memberikan dampak serius terhadap kelangsungan hidup satwa tersebut.
Kebakaran tidak hanya mengancam tutupan hutan, tetapi juga berpotensi merusak sumber pakan, pohon sarang, konektivitas antarhabitat, hingga keberlangsungan populasi orangutan dalam jangka panjang.
Sejumlah Wilayah Masuk Kategori Kritis
Geopix juga melakukan analisis matriks kerentanan Orangutan Kalimantan terhadap karhutla dengan melihat interaksi antara jumlah populasi dan tingkat hotspot.
Hasil analisis menunjukkan setiap wilayah membutuhkan prioritas konservasi yang berbeda.
Wilayah seperti Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit dinilai berada dalam kondisi paling kritis. Wilayah tersebut masuk dalam kategori populasi kecil yang menghadapi tingkat titik api tinggi sehingga membutuhkan respons darurat karhutla.
Sementara itu, wilayah Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau memiliki tingkat ancaman relatif lebih rendah dan dapat menjadi fokus pemantauan serta restorasi.
Adapun Rungan River, Katingan, dan Gunung Palung dinilai sebagai kantong populasi penting yang harus menjadi prioritas dalam upaya pencegahan kebakaran dan perlindungan habitat.
Geopix mengingatkan, Kuadran I yang menggambarkan kondisi terburuk saat ini belum terisi. Namun kondisi tersebut dapat terjadi apabila hotspot meningkat secara ekstrem di wilayah yang masih memiliki populasi orangutan.
"Kita Telah Gagal Memitigasi Bencana"
Annisa menilai krisis karhutla yang kembali terjadi menjadi peringatan serius bagi semua pihak.
Menurutnya, Indonesia harus segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan kebakaran sekaligus menyelamatkan habitat satwa liar yang tersisa.
"Kita semua telah gagal memitigasi bencana ini, bahkan mungkin masih mencoba bermain api dengan berbagai upaya pelemahan perlindungan hutan yang membuat masyarakat dan satwa-satwa ikonik Indonesia kehilangan haknya atas lingkungan yang sehat," kata Annisa.
Ia menegaskan, langkah paling mendesak saat ini adalah memadamkan api dan menyelamatkan sebanyak mungkin habitat orangutan yang masih tersisa.
Selain itu, pemerintah dan seluruh pihak terkait juga diminta mengurangi dampak langsung karhutla terhadap masyarakat dan satwa liar.
Namun setelah krisis berakhir, pekerjaan besar dinilai masih menanti.
Menurut Annisa, Indonesia harus benar-benar memutus mata rantai karhutla melalui penegakan hukum yang tegas tanpa kompromi terhadap pihak mana pun yang terbukti terlibat atau lalai dalam mencegah kebakaran.
"Semakin nyata bahwa perlindungan ekosistem hutan yang tersisa di Kalimantan dan seluruh Indonesia tidak boleh hanya sekadar omon-omon. Agar kebakaran hutan dan lahan secara masif tidak kembali terulang dan ekosistem yang rusak dapat segera dipulihkan," ujarnya.
Geopix Desak Survei Ulang Habitat Orangutan
Geopix juga mendesak dilakukannya survei ulang secara menyeluruh terhadap habitat dan populasi Orangutan Kalimantan setelah kebakaran.
Survei tersebut dinilai penting untuk mengetahui kondisi kerusakan aktual, jumlah populasi yang tersisa, ketersediaan sumber pakan dan bahan sarang, serta berbagai perubahan signifikan lain yang memengaruhi habitat orangutan.
Hasil survei tersebut, menurut Geopix, harus menjadi dasar untuk melakukan pembaruan atau "reset" PHVA Orangutan Kalimantan karena data dasar konservasi sebelumnya berpotensi tidak lagi relevan setelah terjadinya kebakaran masif.
Selain itu, pemerintah juga didesak segera menyusun Rencana Aksi Darurat Penyelamatan Populasi dan Habitat Orangutan Kalimantan.
Rencana tersebut diharapkan mencakup penyelamatan dan pemantauan populasi, perlindungan habitat dan koridor satwa, pencegahan kebakaran berulang, penegakan hukum, hingga pemulihan ekosistem yang telah rusak.
"Perlindungan Orangutan Kalimantan tidak bisa lagi menunggu. Kebakaran yang terus berulang berpotensi mengubah kondisi habitat secara drastis dan mengancam populasi yang tersisa," pungkas Annisa.
Komentar (0)