Kuliner Khas Mandailing yang Wajib Dicoba

Kuliner Khas Mandailing yang Wajib Dicoba

Sudah pernah mencicipi rasa yang “menggigit” di lidah sekaligus menghangatkan hati? Kalau belum, Anda belum benar‑benar menjelajah kuliner Sumatera Utara. Di balik hiruk‑pikuk kota Medan, ada warisan rasa yang masih terjaga dengan baik oleh orang‑orang Mandailing. Dari arsik yang pedas menggoda hingga tortor yang gurih beraroma kelapa, tiap suapan seakan mengisahkan sejarah dan tradisi yang sudah berusia ratusan tahun.

Jejak Rasa di Tanah Mandailing

Mandailing, wilayah yang meliputi Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan sebagian Kota Sibolga, memang terkenal dengan budaya yang kental. Namun, kuliner di sini jarang masuk daftar “must‑try” wisata kuliner Sumut. Sayangnya, banyak wisatawan yang melewatkan kesempatan mencicipi hidangan otentik karena belum mengetahui letak tepatnya.

Data dari Dinas Pariwisata Sumatera Utara menunjukkan bahwa kunjungan wisata kuliner ke daerah Mandailing naik 12 % pada tahun 2023 dibandingkan 2022. Angka ini menandakan meningkatnya minat pelancong, terutama setelah food‑vlog lokal mengangkat cerita di pasar tradisional Pasar Kuta di Kisaran dan Warung Makan Sinar Mandiri di Pematang Siantar.

1. Arsik Mandailing – Pedasnya Membara

Arsik, sup ikan khas Mandailing yang dibumbui dengan cabai merah, bawang merah, dan daun salam, menjadi ikon rasa yang tak boleh dilewatkan. Kuncinya terletak pada ikan mas segar yang dipilih langsung dari Danau Toba. “Kalau ikan tidak segar, rasa arsik akan kehilangan keasliannya,” ujar Rudi Haryanto, pemilik warung Arsik Rasa Mandiri di Jalan Sisingamangaraja, Medan. “Kami selalu beli ikan pagi‑pagi sekali, sebelum pasar ramai.”

Berikut ciri khas arsik yang patut Anda perhatikan:

  • Warna merah pekat dari cabai keriting.
  • Rasa umami kuat berkat tambahan kelapa parut sangrai.
  • Tekstur kuah yang kental, tidak berair.

2. Tortor – Kelezatan Kelapa Parut

Berbeda dengan arsik yang berkuah, tortor adalah hidangan berbasis daging atau ikan yang dibungkus daun pisang, kemudian dipanggang dengan kelapa parut sangrai. Di Desa Panggala, Tapanuli Utara, tortor menjadi sajian utama saat perayaan adat Raja Mandailing. “Rasa kelapa yang gurih berpadu dengan bumbu rempah, membuatnya unik,” kata Dr. Siti Marzuki, dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sumatera Utara. “Bahkan, penelitian kami menemukan bahwa kandungan anti‑oksidan pada kelapa sangrai meningkat hingga 30 % setelah proses pemanggangan.”

Tips menikmati tortor:

  • Gunakan sendok makan kecil untuk mengikis kelapa yang menempel di daging.
  • Sajikan panas‑panas, biasanya bersama sambal talam khas Mandailing.
  • Padukan dengan nasi ulam berdaun pisang untuk menambah aroma.

3. Mie Lidi – Sentuhan Pedas Manis

Mie lidi, mie tipis yang digoreng hingga renyah, lalu disiram kuah kaldu pedas manis, menjadi camilan favorit warga Mandailing. Di Pasar Rakyat Siantar, penjual Pak Darto selalu mengumumkan “Mie Lidi spesial, hanya 15 ribu!” Setiap hari, lebih dari 200 porsi terjual, menandakan popularitasnya yang tak lekang oleh waktu.

Kiat Menikmati Kuliner Mandailing Secara Otentik

Nah, kalau Anda berencana menjelajah rasa Mandailing, berikut beberapa saran praktis:

  • Datang pada pagi hari ke pasar tradisional untuk mendapatkan bahan segar.
  • Jangan ragu bertanya pada penjual tentang asal‑usul bahan, biasanya mereka dengan senang hati berbagi cerita.
  • Jika ingin mencoba masakan rumahan, kunjungi Rumah Makan Lantang di Kota Balige, yang dikelola oleh keluarga Nasution selama tiga generasi.
  • Catat nomor telepon warung favorit; banyak yang menerima pemesanan lewat WhatsApp, memudahkan Anda menikmati hidangan tanpa harus menunggu lama.

Penutup

Mandailing bukan sekadar peta geografis; ia adalah kumpulan rasa yang menunggu untuk dijelajahi. Dari arsik yang memancing air liur, tortor yang mengundang nostalgia, hingga mie lidi yang menggoda selera, semuanya menawarkan pengalaman kuliner yang berbeda. Jadi, bila Anda berada di Sumut, jangan lewatkan kesempatan menapaki jalan berliku di Kisaran atau Balige hanya untuk satu tujuan: mengisi perut dan hati dengan kelezatan Mandailing yang otentik.

“Kuliner adalah jendela budaya. Memahami rasa Mandailing berarti memahami jiwa masyarakatnya,” kata Rudi Haryanto, pemilik warung arsik di Medan.

“Penelitian kami menunjukkan nilai gizi tinggi pada kelapa sangrai, yang menjadi bintang pada tortor,” tambah Dr. Siti Marzuki, pakar kuliner Universitas Sumatera Utara.
Reporter: Om | Editor: Om | Sumber: Tajukrakyat.com

Komentar (0)

Beranda Cari Gelap Atas