Kuliner Legendaris Jalan Selat Panjang Medan 2026

Kuliner Legendaris Jalan Selat Panjang Medan 2026

Sudah berapa kali Anda melewati Jalan Selat Panjang dan terhenti menatap warung‑warung yang berwarna-warni? 2026 menjadi tahun yang menandai kebangkitan kembali kuliner legendaris di sana. Dari aroma bakso yang menguar hingga suara soto yang menggelegar, tiap sudutnya menyimpan cerita yang tak lekang oleh waktu. Nah, mari kita telusuri apa saja yang membuat jalan ini kembali menjadi magnet kuliner bagi warga Medan dan wisatawan.

Sejarah singkat, rasa tetap abadi

Jalan Selat Panjang memang pernah menjadi jalur utama perdagangan pada era kolonial Belanda. Saat itu, pedagang Tionghoa, Melayu, dan Belanda bersaing menyajikan makanan khas masing‑masing. Menurut data Dinas Pariwisata Sumatera Utara, pada tahun 2025 terdapat lebih dari 180 gerai makanan yang beroperasi di sepanjang 2,3 km jalan ini, meningkat 12 % dibandingkan 2024.

Sayangnya, pandemi melanda membuat beberapa warung tutup sementara. Namun, semangat kuliner tetap hidup. “Kami tidak mau kehilangan warisan rasa,” kata Ahmad Fauzi, pemilik warung Soto Medan Pak Fauzi, yang telah beroperasi sejak 1978. “Kami menyesuaikan menu, menambah varian vegetarian, tapi tetap menjaga cita rasa asli.”

Menu legendaris yang wajib dicoba

Berikut beberapa hidangan yang kembali menjadi sorotan di 2026:

  • Bakso Medan – Daging sapi pilihan, dibalut kuah kaldu bening, disajikan dengan mie kuning dan seledri segar. Penjualan bakso meningkat 18 % tahun ini.
  • Soto Medan – Kuah kuning pekat beraroma rempah, dilengkapi perkedel dan telur rebus. Warung Pak Fauzi melaporkan penjualan rata‑rata 250 mangkuk per hari.
  • Roti Bakar Titi – Roti manis berlapis selai kacang, keju, dan cokelat, dipanggang hingga garing. Roti ini menjadi “selfie food” favorit para milenial.
  • Es Kacang Merah – Minuman dingin berisi kacang merah, kelapa muda, dan sirup gula merah, cocok menyejukkan di tengah terik Medan.

Spot foto Instagramable

Tak hanya rasa, visual juga menjadi daya tarik. Di sudut Jalan Selat Panjang, ada mural “Kisah Rasa Medan” yang dibuat oleh seniman lokal, Rani Widyastuti. “Kami ingin menggabungkan seni dan kuliner, supaya pengunjung bisa merasakan cerita lewat gambar,” ujarnya.

Kutipan dari pakar kuliner

“Jalan Selat Panjang adalah laboratorium rasa. Setiap gerai di sana berperan seperti laboratorium yang menguji resep turun‑temurun dengan sentuhan modern,” kata Dr. Lina Suryani, Dosen Fakultas Gastronomi Universitas Sumatera Utara. “Data menunjukkan peningkatan kunjungan wisata kuliner sebesar 22 % pada kuartal pertama 2026, yang menandakan tren positif bagi ekonomi lokal.”

Tips menikmati kuliner di Jalan Selat Panjang

Berikut beberapa tips agar Anda tidak melewatkan kelezatan khas Medan:

  • Datang pagi – Warung biasanya buka pukul 07.00, dan antrean belum terlalu panjang.
  • Bawa uang tunai – Meskipun beberapa gerai sudah terima kartu, banyak yang masih mengandalkan cash.
  • Coba paket combo – Beberapa warung menawarkan paket “Nasi + Lauk + Minuman” dengan diskon 10 %.
  • Jangan ragu bertanya – Penjual biasanya senang menjelaskan asal‑usul bahan dan cara memasak.

Pengaruh digital dan media sosial

Media sosial berperan penting dalam menghidupkan kembali kuliner jalan ini. Pada bulan Februari 2026, hashtag #SelatPanjangEats mencatat lebih dari 45 ribu postingan di Instagram, dengan rata‑rata 3,2 ribu likes per foto. “Kami memanfaatkan TikTok untuk menampilkan proses pembuatan bakso secara real‑time,” kata Rizky Hidayat, manajer pemasaran Kedai Bakso Bintang Lima. “Engagement naik 35 % setelah kampanye video ‘From Kitchen to Table’.”

Pengembangan berkelanjutan

Seiring dengan peningkatan pengunjung, pemerintah kota Medan mulai mengatur kebersihan dan keamanan makanan. Pada akhir 2025, Program Sertifikasi Kuliner Sehat diluncurkan, dengan target 120 gerai terakreditasi pada 2026. “Kami ingin memastikan rasa tetap otentik, tapi juga higienis,” jelas Andi Prasetyo, Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan.

Penutup

Jalan Selat Panjang bukan sekadar jalan, melainkan jalur rasa yang terus berdenyut. Dari warung berusia puluhan tahun hingga gerai baru yang mengusung konsep modern, semuanya menyatu menjadi satu peta kuliner yang menunggu untuk dijelajahi. Jadi, bila Anda berada di Medan, jangan lewatkan kesempatan mencicipi legendarisnya—karena setiap suapan di sana menyimpan sepotong sejarah, dan tentu saja, rasa yang tak terlupakan.

Reporter: Om | Editor: Om | Sumber: Tajukrakyat.com

Komentar (0)

Beranda Cari Gelap Atas