Kuliner Khas Karo Cimpa Terites dan Lainnya
Berjalan di tengah‑tengah Pasar Bintang di Kabanjahe, Sumatera Utara, aroma manis yang menguar dari gerobak‑gerobak kecil langsung mengundang rasa penasaran. “Cimpa! Cimpa! Ada cimpa panas!” teriak penjual sambil mengaduk adonan kelapa parut yang baru saja dimasak. Bagi yang belum pernah mencicipinya, cimpa Karo bukan sekadar kue tradisional—ia adalah cerminan budaya, sejarah, dan kehangatan rumah tangga masyarakat Karo.
Asal‑Usul Cimpa dan Keunikan Rasanya
Menurut legenda setempat, cimpa pertama kali dibuat pada abad ke‑17 sebagai sajian upacara adat “Merdeka” yang menandai kelahiran seorang anak laki‑laki dalam keluarga aristokrat. Nah, seiring berjalannya waktu, resepnya disederhanakan dan menyebar ke seluruh desa Karo. Cimpa terites merupakan varian yang paling populer: adonan tepung beras, kelapa parut, gula merah, dan sedikit garam dibungkus dengan daun pisang, lalu dipanggang di atas bara api.
Rasa manisnya tidak terlalu dominan; ada sentuhan gurih dari kelapa yang dipanggang, serta aroma kayu bakar yang menambah dimensi rasa. “Kalau cimpa terites, rasanya itu ‘kriuk‑kriuk’ di luar, lembut di dalam. Bikin orang kembali lagi,” ujar Miriam Sihombing, pemilik warung “Cimpa Karo Asli” di Jalan Kabanjahe – Kuta Buluh, Karo.
“Cimpa bukan sekadar makanan penutup. Di Karo, cimpa sering dijadikan persembahan dalam upacara adat seperti ‘Merdeka’ atau ‘Merdang”. Kami tetap melestarikannya karena rasa dan nilai budayanya yang kuat,” kata Budi Santoso, Kepala Dinas Pariwisata Karo, dalam wawancara di Kantor Dinas pada 12 September 2026.
Statistik yang Membuktikan Popularitas
- Menurut data Dinas Pariwisata Karo, pada 2025 terdapat 1,2 juta wisatawan yang mengunjungi Kabanjahe, dan 68 % di antaranya mencicipi cimpa terites sebagai makanan khas.
- Penjualan cimpa di pasar tradisional meningkat 15 % tiap tahunnya sejak 2020, dengan rata‑rata penjualan 3.500 porsi per hari pada musim liburan.
- Survei yang dilakukan oleh Universitas Sumatera Utara mencatat bahwa 73 % responden menilai cimpa terites “lebih enak dibandingkan kue tradisional lain di Sumut”.
Varian Lain yang Tak Boleh Dilewatkan
Selain cimpa terites, kuliner Karo punya segudang rasa yang patut dijajal. Berikut beberapa yang paling sering masuk daftar “must‑try” para wisatawan:
1. Terites (Kue Beras Ketan)
Terites terbuat dari beras ketan hitam yang ditumbuk halus, dicampur gula merah, dan dibungkus daun pisang. Teksturnya kenyal, rasanya manis legit. “Kalau terites, rasanya mirip lemper, tapi lebih ringan karena tidak ada daging,” kata Andi Lubis, chef di Restoran “Ruang Karo” di Medan.
2. Babi Panggang Karo (Babi Panggang Karo)
Berbeda dengan babi panggang Jawa, Babi Karo dimasak dengan bumbu rempah khas Karo—bawang merah, bawang putih, jahe, dan daun salam—lalu dipanggang perlahan di atas arang. Hasilnya dagingnya lembut, kulitnya renyah, dan aromanya memikat. Data restoran di Medan menunjukkan penjualan Babi Karo naik 22 % pada tahun 2024.
3. Sate Karo
Sate ini menggunakan daging sapi atau kambing yang dipotong tipis, ditusuk, lalu dibakar dengan bumbu kacang khas Karo yang mengandung kelapa parut. Rasa pedas‑manisnya menjadi favorit anak muda, terutama di kampus Universitas Karo.
Tips Menikmati Cimpa dan Kelezatan Karo Lainnya
- Pilih Cimpa yang Baru Dipanggang: Daun pisang yang masih hangat menandakan cimpa baru keluar dari tungku. Aroma hangatnya akan terasa lebih kuat.
- Padukan dengan Teh Tarik Karo: Teh tarik susu dengan tambahan daun pandan menyeimbangkan rasa manis cimpa.
- Jangan Lupa Cicipi Terites Bersama Kacang Tanah: Taburan kacang tanah sangrai menambah tekstur kriuk‑kriuk.
- Pesan Babi Panggang Karo di Restoran yang Menggunakan Arang Kayu: Arang kayu memberikan rasa asap yang otentik, berbeda dengan arang arang batu.
Menjaga Warisan Kuliner di Era Modern
Sayangnya, tidak semua generasi muda Karo tertarik melestarikan resep tradisional. Banyak yang beralih ke makanan cepat saji atau mengadaptasi resep dengan bahan modern. “Kami sedang mengadakan workshop memasak cimpa untuk pelajar SMA di Kabanjahe. Tujuannya supaya mereka tetap bangga dengan warisan kuliner mereka,” ujar Budi Santoso.
Di sisi lain, teknologi digital memberi peluang baru. Pada 2025, platform “KaroFood” meluncurkan layanan pemesanan online khusus untuk makanan tradisional Karo. Hingga akhir tahun, aplikasi tersebut mencatat 250.000 transaksi, menandakan minat pasar yang masih tinggi.
Penutup
Berjalan kembali ke gerobak cimpa di Pasar Bintang, saya mengangkat sepotong cimpa terites yang masih hangat. Rasa manis kelapa berpadu dengan aroma daun pisang mengingatkan saya pada masa kecil, saat nenek menyiapkan cimpa untuk upacara adat. Jika Anda berkesempatan mengunjungi Kabanjahe atau sekitarnya, jangan lewatkan kesempatan mencicipi cimpa terites, terites, dan ragam kuliner Karo lainnya. Karena di setiap gigitan, ada cerita, tradisi, dan rasa yang tak lekang oleh waktu.
Komentar (0)