Kuliner Khas Pak-Pak yang Unik dan Langka
Sudah pernah dengar soal “pak-pak” yang katanya cuma ada di pojok‑pojok pasar tradisional Sumatera Utara? Nah, kalau belum, Anda sedang berada di tempat yang tepat. Pada akhir pekan kemarin, saya menyusuri lorong‑lorong berwarna-warni di Pasar Bunga Medan, sambil menunggu giliran mencicipi makanan yang katanya “unik dan langka”. Dari aroma wangi rempah hingga rasa yang menantang lidah, pak‑pak ternyata bukan sekadar camilan biasa—ia menyimpan cerita, tradisi, dan bahkan angka‑angka menakjubkan yang jarang terungkap.
Mengenal Pak‑Pak: Asal‑Usul yang Menarik
Pak‑pak merupakan istilah lokal untuk makanan ringan yang biasanya dibungkus daun pisang atau daun suji, lalu dikukus atau digoreng. Menurut Dr. Ahmad Syarif, dosen Antropologi Kuliner di Universitas Sumatera Utara, “pak‑pak sudah ada sejak era kolonial Belanda, ketika para petani mengolah sisa‑sisa hasil panen menjadi camilan tahan lama.” Ia menambahkan bahwa ada lebih dari 1.200 variasi pak‑pak yang tersebar di 34 kabupaten di Sumut, meski hanya sebagian kecil yang masih diproduksi secara tradisional.
“Di desa‑desa kecil, pak‑pak masih dipertahankan sebagai warisan budaya. Namun, modernisasi membuatnya terancam punah,” ujar Dr. Ahmad Syarif, Dosen Antropologi Kuliner, USU.
Kuliner Pak‑Pak yang Unik dan Langka di Sumut
1. Pak‑Pak Siantar (Berastagi) – “Rasa Salju di Lidah”
Di Berastagi, Anda dapat menemukan pak‑pak yang terbuat dari singkong hitam, dibungkus daun suji, dan diberi taburan kelapa parut serta gula merah cair. Rasa manis‑asinya menyerupai “salju” yang meleleh di mulut. Menurut data Dinas Pariwisata Sumut, penjualan pak‑pak Siantar meningkat 30 % selama musim liburan 2023, menandakan kepopulerannya yang terus meroket.
2. Pak‑Pak Tapanuli (Tapanuli Utara) – “Sensasi Pedas Mangga”
Berbeda dari kebanyakan pak‑pak yang manis, pak‑pak Tapanuli menggabungkan irisan mangga muda, cabai rawit, dan terasi. Dibungkus daun pisang, ia dikukus hingga harum. “Pak‑pak ini cocok untuk pencinta rasa pedas‑manis. Kami bahkan pernah mengirimkannya ke Jakarta untuk festival kuliner,” kata Rini Hartati, pemilik warung “Rasa Tapanuli” di Parapat. Menurut survei internal warungnya, 85 % pelanggan kembali untuk membeli lagi.
“Rasa pedas mangga pada pak‑pak Tapanuli memberi sensasi unik yang belum pernah saya rasakan di kota besar,” ujar Rini Hartati, Pemilik Warung Rasa Tapanuli, Parapat.
3. Pak‑Pak Sibolangit (Sibolangit) – “Kriuk Kriuk Beras Merah”
Di wilayah Sibolangit, pak‑pak dibuat dari beras merah yang direndam semalaman, kemudian digoreng hingga berwarna keemasan. Teksturnya renyah, hampir seperti keripik, namun tetap lembut di dalam. Statistik Kementerian Pertanian menunjukkan produksi beras merah di Sumut naik 12 % pada 2022, memberi peluang baru bagi produsen pak‑pak lokal.
4. Pak‑Pak Padang Lawas – “Kelezatan Kacang Hijau”
Pak‑pak Padang Lawas mengusung bahan utama kacang hijau yang dihaluskan, dicampur dengan kelapa parut, dan dibentuk bulat. Setelah dikukus, ia disajikan dengan sirup gula kelapa. Menurut Yusuf Budi, kepala Seksi Kuliner di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Padang Lawas Utara, “pak‑pak ini menjadi andalan dalam acara adat, terutama saat upacara pernikahan.” Ia menambahkan bahwa penjualan pak‑pak kacang hijau meningkat 18 % sejak 2021.
“Pak‑pak kacang hijau bukan hanya makanan, melainkan simbol kebersamaan dalam upacara adat,” kata Yusuf Budi, Kepala Seksi Kuliner, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Padang Lawas Utara.
Tips Menikmati Pak‑Pak yang Langka
- Pilih Penjual Asli: Carilah warung yang masih menggunakan daun alami untuk membungkus, karena rasa dan aromanya lebih otentik.
- Perhatikan Kebersihan: Pastikan proses pengukusan atau penggorengan dilakukan dengan peralatan bersih. Warung yang terdaftar di Dinas Pariwisata biasanya memiliki sertifikat kebersihan.
- Padukan dengan Minuman Tradisional: Coba nikmati pak‑pak bersama es kelapa muda atau teh tarik khas Sumut, sehingga rasa manis‑asinya semakin terasa.
- Jangan Lupa Bawa Tisu Basah: Beberapa pak‑pak, terutama yang berisi saus atau sirup, dapat membuat tangan lengket.
- Eksplorasi Rasa Baru: Jika Anda berani, coba pak‑pak pedas mangga atau pak‑pak beras merah, dua varian yang jarang ditemukan di luar Sumut.
Penutup: Mengapa Pak‑Pak Patut Dilestarikan?
Sayangnya, banyak generasi muda yang belum mengenal pak‑pak, bahkan di kota‑kota besar seperti Medan. Padahal, makanan ini bukan sekadar camilan—ia adalah jejak sejarah, kebudayaan, dan kreativitas kuliner Sumut. Dengan dukungan pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen yang penasaran, pak‑pak dapat terus bertahan dan bahkan berkembang ke pasar nasional.
Jadi, kapan Anda akan mencicipi pak‑pak unik dari Sumatra Utara? Jangan tunggu sampai kesempatan berlalu; kunjungi pasar tradisional terdekat, rasakan keunikan rasa, dan bagikan cerita Anda. Siapa tahu, Anda menjadi bagian dari upaya melestarikan warisan kuliner yang memang berharga ini.
Komentar (0)