Gajah Sumatera Mati di Rahmat Zoo & Park Sergai, Ini Penyebabnya......
TajukRakyat.com,Sergai - Kabar duka datang dari Rahmat Zoo & Par di Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut).
Seekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) betina bernama Ratna yang berusia sekitar 50 tahun dinyatakan mati pada Sabtu, 7 Februari 2026
Lokasinya Rahmat Zoo & Par di Serdang Bedagai, Sumatera Utara (Sumut).
Gajah betina tersebut mati saat menjalani perawatan medis intensif.
Dibawah Penanganan Tim Dokter Hewan
Ratna sebelumnya berada di bawah penanganan tim dokter hewan yang dipimpin drh. Anhar Lubis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis, uji laboratorium, hingga bedah bangkai (nekropsi), kematian Ratna disebabkan oleh gangguan fungsi ginjal yang disertai gangguan fungsi hati serta komplikasi pada sejumlah organ vital lainnya.
Ratna tiba di Rahmat Zoo & Park pada 29 September 2025 bersama tiga ekor gajah lainnya. Saat itu, kondisinya teridentifikasi kurang ideal atau kurus.
Selain telah memasuki kategori usia tua, Ratna juga memiliki luka menahun berupa fistula, saluran tidak normal pada telapak kaki depan kiri yang memerlukan penanganan khusus.
Perawatan Tidak Berjalan Mudah
Proses perawatan tidak berjalan mudah. Menurut tim medis, Ratna bukan termasuk gajah yang mudah ditangani.
Setiap tindakan medis terhadap luka fistula harus dilakukan melalui prosedur pembiusan demi keselamatan dan efektivitas perawatan.
Selama masa adaptasi di lingkungan barunya, pada 30 Oktober 2025 tim medis mendeteksi adanya edema atau pembengkakan di bagian abdomen.
Penanganan awal berupa pemberian vitamin dan terapi suportif dilakukan pada 12 November 2025 dan sempat menunjukkan perbaikan bertahap.
Namun, pada 1 Januari 2026 terjadi peradangan kembali pada luka fistula di kaki Ratna.
Pengelupasan Kulit di Area Luka
Kondisi tersebut disusul pengelupasan kulit di sekitar area luka pada 11 Januari 2026. Melihat perkembangan itu, drh. Anhar Lubis bersama manajemen R Zoo & Park merekomendasikan tindakan medis lanjutan karena luka dinilai belum tertangani secara tuntas sebelumnya.
Setelah penanganan lanjutan oleh tim dokter gabungan, luka memang menunjukkan progres pemulihan, meski belum optimal.
Untuk memastikan kondisi fisiologis Ratna, dilakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan. Hasilnya menunjukkan adanya gangguan fungsi ginjal.
Dalam masa perawatan berikutnya, Ratna juga mengalami penurunan nafsu makan dan minum. Pemeriksaan darah lanjutan mengindikasikan gangguan fungsi hati.
Gangguan Fungsi Ginjal dan Hati
“Berdasarkan evaluasi klinis menyeluruh, hasil laboratorium, serta nekropsi pasca kematian, penyebab utama kematian Ratna adalah gangguan fungsi ginjal dan hati yang disertai gangguan pada organ vital lain seperti jantung dan saluran pencernaan,” jelas drh. Anhar Lubis dalam keterangan dikutip Kamis 12 Februari 2026.
Ia menambahkan, gangguan fungsi ginjal yang dialami Ratna diduga bersifat multifaktorial, dipengaruhi kondisi fisik awal yang kurang baik serta faktor usia lanjut. Kondisi tubuh yang tidak optimal membatasi kemampuan organ, khususnya ginjal dan hati, dalam mengolah asupan nutrisi.
Akumulasi berbagai faktor tersebut menyebabkan penurunan fungsi organ secara bertahap hingga akhirnya kondisi Ratna memburuk dan tidak dapat tertolong.
Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDASU), Novita Kusuma Wardani, menyampaikan bahwa pihaknya bersama manajemen Rahmat Zoo & Park serta dokter senior berpengalaman telah melakukan upaya maksimal dalam setiap tahapan penanganan medis sesuai prosedur dan prinsip kesejahteraan satwa.
“BBKSDA Sumut akan terus memperkuat fungsi pembinaan, pengawasan, dan pendampingan teknis terhadap lembaga konservasi guna memastikan standar kesejahteraan satwa tetap terjaga,” ujarnya.(cici)
Komentar (0)