Pilu Wanita Lansia Bertahan di Rumah Hampir Roboh di Medan Belawan, Hidup dari Sedekah Warga

Pilu Wanita Lansia Bertahan di Rumah Hampir Roboh di Medan Belawan, Hidup dari Sedekah Warga

Foto: Wanita Lansia di Medan hidup di rumah yang nyaris roboh di Medan Belawan. [Ist]

TajukRakyat, Medan - Di usia yang telah menginjak 73 tahun, Miah masih harus berjuang menjalani hari-harinya dengan kondisi serba terbatas.


Perempuan lanjut usia itu tinggal di sebuah rumah sederhana yang kondisinya kini nyaris roboh di kawasan Taman Makam Pahlawan, Lorong Sedar, Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan.


Bangunan yang telah ditempatinya selama sekitar 50 tahun itu sebagian besar menggunakan papan kayu. Atapnya hanya ditutupi terpal plastik, sementara sejumlah bagian bangunan mulai miring dan lapuk.


Kondisi lantainya pun memprihatinkan. Papan-papan kayu yang sudah keropos membuat sejumlah bagian berlubang. Barang-barang rumah tangga terlihat berserakan di dalam bangunan yang sewaktu-waktu bisa kembali ambruk.


Kondisi tersebut semakin parah setelah bagian rumah Miah roboh pada Selasa (15/9/2026) pagi.


Ironisnya, bangunan itu roboh bukan ketika hujan deras disertai angin kencang, melainkan saat cuaca relatif tenang.


"Kemarin waktu hujan petir besar itu, enggak apa-apa. Tidak hujan dan angin kencang malah roboh, gruduk terus ke bawah," ujar Miah saat ditemui, Kamis (17/9/2026).


Saat kejadian, Miah sedang berada di dalam rumah dan terbaring di kasur.


Dengan kondisi kedua kaki yang sudah tidak mampu menopang tubuh, ia mengaku hanya bisa menyelamatkan diri dengan cara merangkak.


"Saya waktu itu ada di dalam. Ya seperti ini kondisi saya, masih berbaring di tempat istirahat. Untung tidak jebol ke bawah kayu-kayu yang di atas. Nenek enggak bisa berdiri, enggak bisa lari. Terpaksa merangkak-rangkak, alhamdulillah bisa keluar," tuturnya lirih.


Miah mengatakan, rumah tersebut sebelumnya memiliki loteng atau lantai dua. Namun, papan kayu yang semakin lapuk membuat bagian itu akhirnya ikut roboh.


Kini, bukan hanya Miah yang bertahan dalam keterbatasan. Dua anak dan tiga cucunya juga masih tinggal bersamanya.


Dari 10 anak yang dimilikinya, sebagian sudah menjalani kehidupan masing-masing. Sementara anak yang tinggal bersama Miah harus bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


Ada yang menyetrika pakaian milik orang lain dan ada pula yang membantu berjualan makanan keliling milik saudaranya.


Penghasilan yang diperoleh hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak.


Sementara Miah sendiri sudah tidak mampu bekerja. Bahkan untuk berjalan saja, ia harus merangkak.


Kondisi itu telah dialaminya selama sekitar tiga tahun terakhir. Sebelumnya, kedua kakinya juga kerap mengalami kram selama kurang lebih satu dekade.


"Nenek ya macam mana. Mau dibangun, enggak ada uangnya. Apa adanya saja lah," ucapnya.


Setelah rumahnya mengalami kerusakan parah, Miah sempat menerima bantuan Rp450 ribu dari sebuah yayasan. Uang tersebut digunakannya untuk menyewa rumah warga sebagai tempat tinggal sementara.


Namun, keterbatasan ekonomi membuat ia dan keluarganya tetap kesulitan.


"Sudah kejadian ginilah baru ngungsi. Sebelum kejadian enggak ada. Dari mana nenek uang, kerja tidak. Anak nelayan. Hidup anak nenek pun serupa nenek, tidak ada uang," katanya.


Miah bahkan mengaku masih harus kembali ke rumah lamanya untuk mengambil dan mencuci pakaian yang tertinggal.


Hujan yang turun pada malam hari juga membuat dirinya sempat kembali kebasahan.


Kondisi ekonomi keluarga tersebut semakin berat karena bantuan sosial yang sebelumnya diterima Miah kini terhenti.


Ia mengaku dahulu mendapat bantuan berupa beras dan uang. Namun, bantuan tersebut hanya diterimanya sebanyak tiga kali.


Menurut Miah, bantuan itu berhenti setelah salah satu anaknya pernah mengambil pinjaman daring sekitar Rp200 ribu karena keluarga sedang tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan makan.


"Dulu ada dapat bantuan. Tapi lantaran anak nenek pernah pikirnya enggak apa-apa, ngambil uang Rp200 ribu. Sekarang enggak dapat bantuan lagi. Beras pun tak dapat, uang pun tak dapat," ungkapnya.


Ia menegaskan uang tersebut digunakan dalam kondisi terdesak karena persediaan makanan di rumah sudah habis.


"Enggak banyak, hanya Rp200 ribu. Itu pun keadaan terpaksa. Mau masak di rumah enggak ada. Anak saya bilang, 'Kita ambil ya, Mak.' Ya terserah kau lah, kalau tidak ada masalah," tuturnya.


Selain persoalan rumah yang nyaris roboh, Miah juga harus menghadapi ancaman banjir akibat air pasang yang kerap masuk ke kawasan tempat tinggalnya.


Saat pasang tinggi, air dapat menggenangi rumah dan merendam berbagai perabotan.


"Kalau di sini pasang dalam, tinggi juga. Nenek kadang duduk saja, tunggu tidak lama surut. Di sini airnya bisa naik turun," katanya.


Rumah tersebut sebenarnya bukan milik Miah. Ia mengaku bangunan itu dahulu merupakan milik abang iparnya.


Karena sang abang ipar mengalami sakit parah, Miah bersama suaminya diminta menempati dan memperbaiki rumah tersebut.


"Dulu punya abang ipar. Abang ipar sakit juga. Bilang sama suami nenek, 'Kau belah lah rumah ini. Kalau aku sudah mati, ambil saja lah ini,'" ujarnya.


Menurut Miah, ketika pertama kali ditempati, kondisi rumah tersebut memang sudah rusak. Ia dan suaminya kemudian memperbaikinya sedikit demi sedikit hingga bisa digunakan sebagai tempat tinggal.


Namun, usia bangunan yang semakin tua ditambah material kayu yang lapuk membuat kondisi rumah kembali memburuk.


Kini Miah hanya bisa berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak yang bersedia membantu memperbaiki tempat tinggalnya.


Harapan itu terasa semakin besar karena ia tidak lagi memiliki kemampuan untuk memperbaiki rumah tersebut secara mandiri.


Di tengah kondisi tubuh yang semakin terbatas, Miah juga mengaku kehidupan keluarganya selama ini banyak bergantung pada bantuan orang lain.


Suaminya sendiri telah meninggal dunia setelah tersambar petir ketika sedang menangkap ikan.


Sejak saat itu, Miah menjalani kehidupan bersama anak-anaknya dengan kondisi ekonomi yang serba pas-pasan.


Bahkan, ia mengaku pernah tidak makan selama dua hingga tiga hari karena tidak memiliki uang dan persediaan makanan di rumah telah habis.


"Jadi kami hidup dari sedekah. Ada orang sedekah. Kalau anak ada sedikit nanti kasih juga. Kadang ada pun tak makan nenek, sampai dua atau tiga hari sudah biasa," ujarnya.


Kini, di balik rumah papan yang semakin rapuh itu, Miah hanya berharap ada uluran tangan agar dirinya bersama anak dan cucunya dapat memiliki tempat tinggal yang lebih aman.


Reporter: Rio Bramastra | Editor: Rio Bramastra | Sumber: Tajukrakyat.com

Komentar (0)

Beranda Cari Gelap Atas